Industri Otomotif Indonesia: Penjualan, Produksi, Ekspor & Impor

Peningkatan Ekspedisi Mobil di Indonesia tidak Sebanding dengan Data Kegiatan Ekspor yang Ada.

Meskipun terbukti sulit untuk produsen mobil Indonesia guna mengekspor produknya ke pasar luar negeri, yang terlukis dari menurunnya jumlah eksportir mobil lokal (menurun dari delapan pada tahun 2013 menjadi lima pada mula tahun 2018), ekspedisi mobil di Indonesia terus meningkat sekitar masa lalu. lima tahun. Namun, secara absolut, angka itu tetap simpel dengan 231.169 unit mobil yang diekspor dari Indonesia pada tahun sarat 2017.

Kementerian Perindustrian Indonesia menargetkan untuk menyaksikan ekspor minimal 20 persen unit mobil yang diproduksi di Indonesia. Mempertimbangkan Indonesia menghasilkan total 1.216.615 unit mobil pada tahun 2017, sedangkan mengekspor 231.169 unit pada tahun yang sama, rasio tersebut mencapai 19 persen, tepat di bawah target kementerian.

Kapasitas buatan tidak menjadi masalah di industri otomotif Indonesia. Setelah sejumlah perusahaan mengerjakan investasi dalam ekspansi pabrik mereka dalam sejumlah tahun terakhir, sedangkan ada juga sejumlah pendatang baru (meskipun sejumlah yang lain memblokir pabrik mereka di Indonesia), total kapasitas buatan mobil tahunan negara tersebut kini menjangkau sekitar 2,25 juta. Bahkan, kapasitas buatan mobil Indonesia melonjak 70 persen sekitar enam tahun terakhir.

Rencana perluasan produksi produsen mobil nasional ini khususnya didorong oleh rasio kepemilikan mobil per kapita Indonesia yang masih rendah. Dan meskipun angka penjualan mobil dalam negeri telah stagnan dalam sejumlah tahun terakhir (fenomena yang seringkali dikaitkan dengan perkembangan daya beli negara yang suram) masih ada tidak sedikit ruang untuk perkembangan penjualan mobil di Indonesia di masa depan.

Masalah utama dalam urusan ekspor mobil ialah bahwa ekspedisi mobil Indonesia ketika ini melulu dapat mencapai negara-negara berkembang, laksana rekan-rekannya di area Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Afrika, serta Timur Tengah. Alasan di balik ini ialah bahwa negara-negara ini belum memutuskan standar yang tinggi guna keselamatan dan emisi gas.

Indonesia pun tertinggal jauh, agak jauh, dalam hal ketentuan keselamatan dan emisi gas. Melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P. 20 / MENLHK / SETJEN / KUM. 1/3/2017 mengenai Standar Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe 4 Euro, diterbitkan pada 10 Maret 2017, pemerintah Indonesia menyuruh semua produsen kendaraan roda empat dalam negeri untuk menyesuaikan dengan standar emisi Euro-4. Pemerintah Indonesia memberitahukan akan menyerahkan periode 18 bulan untuk produsen mobil atau bus lokal guna menyesuaikan dengan standar baru, sedangkan kendaraan diesel diberi masa-masa empat tahun guna menyesuaikan. Saat ini, mayoritas pabrikan otomotif di Indonesia masih dalam fase Euro-2.

Sementara sejumlah negara maju telah mulai memakai standar Euro-2 pada tahun 1997, Indonesia melulu mengikutinya pada tahun 2003 (sementara bahan bakar standar Euro-2 masih belum dipakai secara luas di semua Kepulauan ketika ini karena tidak sedikit orang Indonesia masih memakai RON 88, pun dikenal sebagai premium). Dan sedangkan negara maju mulai mematuhi standar Euro-4 semenjak 2005, Indonesia nyaris tidak siap guna memperkenalkannya pada tahun 2018.

Menteri Perindustrian Indonesia Airlangga Hartarto menambahkan bahwa mayoritas negara maju sudah mengadopsi standar yang dirumuskan dalam Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa guna Eropa (UNECE), sedangkan Indonesia belum mengadopsi ini dan karena tersebut kehilangan kesempatan dalam urusan ekspor mobil. Pada tahun 2017 pemerintah Indonesia telah menyimpulkan untuk mengadopsi UNECE dan menjadikannya referensi guna Standar Nasional Indonesia (dalam Bahasa Indonesia: Standar Nasional Indonesia, atau SNI) guna pemilihan komponen mobil, tergolong ban dan jendela. Namun, ini ialah proses yang masih berlangsung.

Sementara itu, impor mobil ke Indonesia sudah menurun sekitar lima tahun terakhir. Hal ini dapat diterangkan dengan peluncuran sekian banyak  model mobil yang berbobot | berbobot | berkualitas baik dan unik oleh produsen mobil dalam negeri di pasar domestik, sehingga memberi batas permintaan guna mobil impor.