Jagalah BMW Anda dan Dia Akan Menjaga Keselamatanmu Juga

Saya sudah mencatat beberapa tulisan tentang BMWBLOG dan seseorang dari Anda barangkali telah memahami sekarang bahwa saya mempunyai BMW E36.

Saya sudah mencatat beberapa tulisan tentang BMWBLOG dan seseorang dari Anda barangkali telah memahami sekarang bahwa saya mempunyai BMW E36. Saya tidak sedikit berbicara mengenai itu, tidak sedikit yang menciptakan semua orang cemas, saya membayangkan. Saya tidak dapat menahannya, saya menyukai mobil saya. Dia telah tua, lelah dan mempunyai sejuta (237, xxx) mil namun dia tidak pernah berhenti menendang, terlepas dari semua kendala yang dia alami. Tapi tersebut bukan dalil saya di sini, berkata kepada kita orang-orang baik. Saya berkata tentang keandalan BMW.

Saya telah menyimak beberapa tulisan dan mendengar tidak sedikit orang mengklaim bahwa BMW ialah mobil yang tidak bisa diandalkan dan tidak bisa diandalkan melulu karena mereka ialah orang Jerman. Ini ialah penilaian yang tidak adil dari orang-orang yang mempunyai terlalu tidak sedikit Volkswagen. BMW tidak dapat diandalkan. Faktanya, mesin BMW straight-six ialah mesin yang sangat kuat dan terpanjang di luar sana. Mereka praktis anti peluru.

Sekarang meskipun saya sangat menyukai mobil saya, saya tidak mempunyai kesalahpahaman mengenai hal itu. E36 bukan tergolong yang terbaik dari BMW. Tetapi gadis tua tersebut telah melalui tidak sedikit hal; badai salju NJ yang gila, didorong melewati dua badai, sudah menabrak mobil saya yang lain ketika diparkir, dan sudah didorong oleh hooligan (Me) sekitar tujuh tahun terakhir dan masih berlangsung dengan indah. Tentu saja melulu satu dari empat pintu bermanfaat penuh (kunci, jendela dan pegangan) dan kontrol traksi bukan lagi berfungsi, namun M52 yang indah, enam lurus masih berlangsung sehalus hari dibangunnya.

Yang dibutuhkan untuk menjaga supaya BMW berlangsung dengan baik ialah perawatan. Itu barangkali tampak laksana konsep yang sederhana, tetapi tersebut sesuatu yang terlalu tidak jarang diabaikan. Dengan pemeliharaan, yang saya maksudkan penggantian oli, penggantian paking dan secara keseluruhan melulu mengikuti segala masalah yang barangkali timbul. Sekali lagi, ini barangkali terdengar simpel tetapi spektakuler betapa tidak sedikit orang mengklaim bahwa BMW tidak bisa diandalkan sebab paking penutup katup memburuk.

BMW, seperti seluruh mobil Jerman, membutuhkan perawatan yang seksama karena diciptakan dengan perhatian seksama terhadap detail. Jadi guna mempunyai mobil yang diciptakan dengan jenis rekayasa, atau over-engineering, bahwa BMW diciptakan dengan, maka Anda mesti mengikutinya. BMW tidak bisa diandalkan, mereka melulu membutuhkan sebanyak perhatian eksklusif yang melulu dapat diserahkan oleh peminat mobil sejati. Apakah mereka bakal riang, peduli pemeliharaan, sebagai Toyota? Tidak, tapi tersebut intinya. BMW mesti diperhatikan, namun mereka sepadan.

Industri Otomotif Indonesia: Penjualan, Produksi, Ekspor & Impor

Peningkatan Ekspedisi Mobil di Indonesia tidak Sebanding dengan Data Kegiatan Ekspor yang Ada.

Meskipun terbukti sulit untuk produsen mobil Indonesia guna mengekspor produknya ke pasar luar negeri, yang terlukis dari menurunnya jumlah eksportir mobil lokal (menurun dari delapan pada tahun 2013 menjadi lima pada mula tahun 2018), ekspedisi mobil di Indonesia terus meningkat sekitar masa lalu. lima tahun. Namun, secara absolut, angka itu tetap simpel dengan 231.169 unit mobil yang diekspor dari Indonesia pada tahun sarat 2017.

Kementerian Perindustrian Indonesia menargetkan untuk menyaksikan ekspor minimal 20 persen unit mobil yang diproduksi di Indonesia. Mempertimbangkan Indonesia menghasilkan total 1.216.615 unit mobil pada tahun 2017, sedangkan mengekspor 231.169 unit pada tahun yang sama, rasio tersebut mencapai 19 persen, tepat di bawah target kementerian.

Kapasitas buatan tidak menjadi masalah di industri otomotif Indonesia. Setelah sejumlah perusahaan mengerjakan investasi dalam ekspansi pabrik mereka dalam sejumlah tahun terakhir, sedangkan ada juga sejumlah pendatang baru (meskipun sejumlah yang lain memblokir pabrik mereka di Indonesia), total kapasitas buatan mobil tahunan negara tersebut kini menjangkau sekitar 2,25 juta. Bahkan, kapasitas buatan mobil Indonesia melonjak 70 persen sekitar enam tahun terakhir.

Rencana perluasan produksi produsen mobil nasional ini khususnya didorong oleh rasio kepemilikan mobil per kapita Indonesia yang masih rendah. Dan meskipun angka penjualan mobil dalam negeri telah stagnan dalam sejumlah tahun terakhir (fenomena yang seringkali dikaitkan dengan perkembangan daya beli negara yang suram) masih ada tidak sedikit ruang untuk perkembangan penjualan mobil di Indonesia di masa depan.

Masalah utama dalam urusan ekspor mobil ialah bahwa ekspedisi mobil Indonesia ketika ini melulu dapat mencapai negara-negara berkembang, laksana rekan-rekannya di area Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Afrika, serta Timur Tengah. Alasan di balik ini ialah bahwa negara-negara ini belum memutuskan standar yang tinggi guna keselamatan dan emisi gas.

Indonesia pun tertinggal jauh, agak jauh, dalam hal ketentuan keselamatan dan emisi gas. Melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P. 20 / MENLHK / SETJEN / KUM. 1/3/2017 mengenai Standar Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe 4 Euro, diterbitkan pada 10 Maret 2017, pemerintah Indonesia menyuruh semua produsen kendaraan roda empat dalam negeri untuk menyesuaikan dengan standar emisi Euro-4. Pemerintah Indonesia memberitahukan akan menyerahkan periode 18 bulan untuk produsen mobil atau bus lokal guna menyesuaikan dengan standar baru, sedangkan kendaraan diesel diberi masa-masa empat tahun guna menyesuaikan. Saat ini, mayoritas pabrikan otomotif di Indonesia masih dalam fase Euro-2.

Sementara sejumlah negara maju telah mulai memakai standar Euro-2 pada tahun 1997, Indonesia melulu mengikutinya pada tahun 2003 (sementara bahan bakar standar Euro-2 masih belum dipakai secara luas di semua Kepulauan ketika ini karena tidak sedikit orang Indonesia masih memakai RON 88, pun dikenal sebagai premium). Dan sedangkan negara maju mulai mematuhi standar Euro-4 semenjak 2005, Indonesia nyaris tidak siap guna memperkenalkannya pada tahun 2018.

Menteri Perindustrian Indonesia Airlangga Hartarto menambahkan bahwa mayoritas negara maju sudah mengadopsi standar yang dirumuskan dalam Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa guna Eropa (UNECE), sedangkan Indonesia belum mengadopsi ini dan karena tersebut kehilangan kesempatan dalam urusan ekspor mobil. Pada tahun 2017 pemerintah Indonesia telah menyimpulkan untuk mengadopsi UNECE dan menjadikannya referensi guna Standar Nasional Indonesia (dalam Bahasa Indonesia: Standar Nasional Indonesia, atau SNI) guna pemilihan komponen mobil, tergolong ban dan jendela. Namun, ini ialah proses yang masih berlangsung.

Sementara itu, impor mobil ke Indonesia sudah menurun sekitar lima tahun terakhir. Hal ini dapat diterangkan dengan peluncuran sekian banyak  model mobil yang berbobot | berbobot | berkualitas baik dan unik oleh produsen mobil dalam negeri di pasar domestik, sehingga memberi batas permintaan guna mobil impor.